Humaira

gelak isak gertak teriak

minum susu di tangga pada malam pekat bulan setengah malu-malu pucat

santap mie cabai lima hingga juntai lidah kepedasan jatuh butir keringat kepanasan minum air kesakitan

tepuk pundak peluk erat

bagai dua ranting miring saling topang

bagai dua pelari kehabisan napas saling sokong

tempat berpegang tempat bersandar tempat berbagi tempat kembali

capcay nasi goreng sop telur dan brownie,

tak abai kari yang disaji pasca ujian lampau hari dan ketuk pintu malam hari menawarkan minum susu atau kopi duduk di tangga hingga pagi

selamat hari raya

--

--

yang mahaulung, yang mahaulung
berdiri tegak nan agung di puncak yang jangkung
kokoh nan adiluhung
ucapnya begitu merdu seperti senandung,
sedap betul terdengar di kuping, indah tak terbendung
bicaranya ulung, otaknya tajam betul!

yang mahasegala, yang mahasegala
begitu elok dan berkilau,
jalannya berlenggok rupanya cemerlang bajunya gemerlap, tanpa walau begitu memukau, bikin suara parau dan hati kacau

yang mahalangit,
kamilah yang mahatanah
kamilah yang mahalemah
kamilah yang maharendah
kamilah yang mahatidaksegala
goblok percaya janji tak bernas,
tertipu daya cantik pukau di atas alas,
terpikat pukat umbuk emas!

belaka, semua maha hanya tipu belaka
celaka, semua kita akan celaka

mati! yang mahamati
yang maha mati

--

--